nulisindah

"Maka nikmat Tuhan mu manakah yang engkau dustakan"

Kesadaran Masyarakat untuk Menerapkan Ekonomi Islam

pada 19 Mei 2012

 

Dekade ini boleh dikatakan menjadi periode keemasan bagi ekonomi islam. Termasuk di Indonesia. Sejak tahun 2000 silam, pertumbuhan lembaga ekonomi berbasis syariah kian subur. Barang kali hal tersebut bisa dimaklum, ketika mayoritas penduduk di Indonesia sendiri adalah muslim. Namun bukan itu yang menjadi faktor dominan. Justru ekonomi islam atau syariah itu sendiri yang memiliki kekuatan sekaligus fleksibilitas untuk diaplikasikan. Sinergi diantara tataran idealita dan realita. Bukan hanya bagi kaum muslimin, namun juga non muslim.

Ekonomi, dalam islam, adalah ilmu yang mempelajari segala perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan tujuan memperoleh falah (kedamaian dan kesejahteraan dunia dan akhirat). Perilaku manusia disini berkaitan dengan berbagai landasan syariat sebagai rujukan berperilaku dan kecendrungan dari fitrah manusia. Dan dalam ekonomi islam, kedua hal tersebut berinteraksi dengan porsinya masing-masing, hingga terbentuk sebuah mekanisme ekonomi yang khas dengan dasar-dasar ilahiyah. Mudahnya, ekonomi islam adalah ilmu pengetahuan yang berupaya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan dengan cara yang islami.

sistem ekonomi islam merupakan integrasi ajaran islam yang komprehensif, sehingga prinsip-prinsip dasar ekonomi islam mengacu pada saripati ajaran islam. Kesesuaian sistem tersebut dengan fitrah manusia tidak ditinggalkan. Keselarasan inilah yang menjaga sistem ini tidak terbentur-bentur dalam implementasinya. Kebebasan berekonomi terkendali menjadi ciri dan prinsip ekonomi islam. Serta masih banyak lagi kelebihan dari sistem ekonomi syariah. Intinya, sistem ekonomi syariah tidak lepas dari aturan-aturan Allah, menjunjung tinggi etika, menghargai hak-hak kemanusiaan dan bersifat moderat.

Perbedaan mendasar ekonomi syariah dengan ekonomi konvensional (kapitalis dan sosialis) terletak pada sumber utama prilaku dan infrastruktur ekonomi syariah yaitu al Qur’an dan as Sunnah, yang bukan merupakan karya pakar ekonomi Islam, namun pengetahuan langsung dari sang Maha Pencipta, Allah Subhana wa ta’Allah. Di sisi lain, sumber pengetahuan ekonomi konvensional adalah intelegensi dan institusi akal manusia melalui studi empiris. Perbedaan kedua, terletak pada motif prilaku itu sendiri. Ekonomi syariah dibangun dan dikembangkan di atas nilai altruism, sedangkan ekonomi konvensional berdasarkan nilai egoisme.

Seandainya seluruh masyarakat menyadari, bahwa krisis global yang terjadi tahun 2007 lalu berawal dari permainan transaksi surat hutang yang tak terkontrol di Amerika Serikat (AS) yang berpangkal dari instrumen bunga yang merupakan riba. Karena AS adalah pusat perputaran uang dunia, maka kebangkrutannya menyeret kebangkrutan perusahaan keuangan nyaris diseluruh dunia. Sektor riil pun terkena imbas. Apa yang terjadi di AS mencerminkan, bahwa kapitalisme yang bersifat memanjakan kerakusan manusia, telah memakan banyak korban. Transaksi di pasar uang telah jauh melebihi transaksi sektor riil. Apa yang terjadi kemudian adalah buble economy.

Dan akhir-akhir ini telah terjadi pula krisis utang yunani. Ternyata krisis ekonomi Eropa memiliki hubungan erat dengan krisis ekonomi di Amerika Serikat yang terjadi pada tahun 2007 silam. Dengan kata lain, krisis ekonomi Amerika Serikat menjalar ke wilayah Eropa. Karena memang antara Amerika Serikat dan Eropa memiliki hubungan ekonomi yang erat dan bersifat timbal balik.

Ternyata usut punya usut biang keladi dari krisis tersebut tidak lain adalah lembaga keuangan di Amerika Serikat, terutama perbankan. Bahwa negara Amerika menjalan sistem ekonomi riba tentu kita semua sudah tahu. Tapi bukan hanya itu masalahnya. Ada tindakan negatif yang dilakukan bank-bank di Amerika untuk meraup keuntungan lebih. Tindakan ini berkaitan dengan pemberian kredit rumah. Permisalan mudahnya seperti ini. Para nasabah seharusnya membayar cicilan bunga kredit sebesar 200 ribu setiap bulan. Ternyata bank memberikan keringanan semu kepada nasabah dengan menarik cicilan bunga kredit sebesar 100 ribu setiap bulan. Tentu 100 ribu sisanya tidak direlakan begitu saja. Lebih kejamnya sisa cicilan bunga tersebut dimasukkan ke dalam hutang kredit pokok. Secara otomatis, pokok kredit yang bertambah akan menyebabkan nominal bunga pinjaman pun bertambah. Intinya bisa dikatakan, bunga pinjaman kemudian berbunga lagi. Tentu hal ini membuat para nasabah tidak mampu membayar cicilan karena nilainya terus membengkak. Akibatnya, banyak nasabah yang harus kehilangan rumah kredit tersebut. Lebih lanjut hal ini berdampak pada merosotnya bisnis property yang ada di Amerika. Bak bola salju, krisis ini terus menggelinding sambil menyeret gumpalan-gumpalan krisis yang lain hingga terus menjalar ke benua Eropa.

Sungguh benar firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an surat Al baqarah ayat 276;

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa”. (QS. Al Baqarah: 276)

Salah satu solusi penting yang harus diperhatikan oleh seluruh masyarakat dalam menangani krisi ekonomi global adalah penerapan ekonomi syariah. Ekonomi syariah memiliki komitmen yang kuat pada pengentasan kemiskinan, penegakan keadilan pertumbuhan ekonomi, penghapusan riba, dan pelarangan spekulasi mata uang sehingga menciptakan stabilitas perekonomian.

Ekonomi syariah yang menekankan keadilan, mengajarkan konsep yang unggul dalam menghadapi gejolak moneter dibanding sistem konvensional. Fakta ini telah diakui oleh banyak pakar ekonomi global, seperti Rodney Shakespeare (United Kingdom), Volker Nienhaus (Jerman), dsb.

Kedepan pemerintah sebagai badan perwakilan masyarakat perlu memberikan perhatian besar kepada sistem ekonomi Islam yang telah terbukti ampuh dan lebih resisten di masa krisis. Sistem ekonomi Islam yang diwakili lembaga perbankan syariah telah menunjukkan ketangguhannya bisa bertahan karena ia menggunakan sistem bagi hasil sehingga tidak mengalami negatif spread sebagaimana bank-bank konvensional. Bahkan perbankan syariah semakin berkembang di masa-masa yang sangat sulit tersebut.

Sementara bank-bank raksasa mengalami keterpurukan hebat yang berakhir pada likuidasi, sebagian bank konvensional lainnya terpaksa direkap oleh pemerintah dalam jumlah besar. Setiap tahun APBN dikuras oleh keperluan membayar bunga obligasi rekap tersebut. Dana APBN yang seharusnya diutamakan untuk pengentasan kemiskinan rakyat, tetapi justru digunakan untuk membantu bank-bank konvensional. Inilah faktanya, kalau kita masih mempertahakan sistem ekonomi kapitalisme yang ribawi.

Aplikasi ekonomi Islam bukanlah untuk kepentingan umat Islam saja. Penilaian sektarianisme bagi penerapan ekonomi Islam seperti itu keliru, sebab ekonomi Islam yang konsen pada penegakan prinsip keadilan dan membawa rahmat untuk semua orang tidak diperuntukkan bagi umat Islam saja.

Cukup kiranya bagi umat manusia krisis ekonomi di Asia, Amerika, dan Eropa menjadi pelajaran yang berharga. Terutama sekali bagi kita sebagai umat Islam yang diberikan sistem ekonomi terbaik dari sisi Allah. Dan sudah saatnya bagi kita untuk hijrah dari ekonomi kapitalis atau riba kepada ekonomi Islam atau syariah. Ini semua untuk kemaslahatan kita di dunia terutama di akhirat kelak.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

M&J Blog

A collection of ideas and company news from M&J Trimming in NYC.

Tulle and Trinkets

A pretty place for personal style, cooking, DIY, and home inspiration.

%d blogger menyukai ini: